All that we can be, where this thing can go?
Am I crazy or falling in love?
Is it real or just another crush?
Dengan enggan aku meraih handphone di atas meja, mematikan tonenya, dan memandang sejenak ke layar mini nan mungil itu. Ternyata ada sms. Duuh, orang gila makin pinter ya, bisa ngirim sms! Lantas kubuka pesannya yang isinya: Ara, I love you....
"Ooo... I love you juga,"bisikku pelan tanpa peduli isi sms itu. Lantas aku melanjutkan berkelana ke pulau kapuk.
"Iya, maa," jawabku enggan.
"Eee...koq masih tidur. Ayo buruan wudhu!"
Aku bangun perlahan, mengucek-ucek mata, dan menguap. Mataku masih terasa berat. Masih terbayang rumus relativitas gerak Einstein di pelupuk mataku, menari-nari dengan persamaannya yang rumit. Sejenak aku teringat sms semalam, meski sedikit samar dan aku sudah lupa isinya, tertumpuk rumus dan hapalan ujian Fisika hari ini.
Aku meraih handphoneku dan membuka kotak pesan. Segera aku mencari pesan semalam. Ara, I love you.... Deg! Astaga! Apa ini? Sms iseng? Segera aku membaca nama pengirimnya, yang ternyata adalah... Kyle? Anak itu? Apa yang dipikirkannya kali ini? Apakah ini salah satu keisengannya? Lantas kalau bukan? Apakah dia mengungkapkan isi hatinya padaku? Lewat sms? Masa gitu sih? Ahh... Apa yang harus kulakukan?
"Araaa... Sholat!"teriakan Ibu membuyarkan lamunanku. Sejenak aku bergeming, menatap layar handphoneku, kemudian aku beranjak mengambil wudhu. Mungkin setelah sholat aku dapat berpikir dengan lebih jernih.
"Assalamualaykum, Ara!" sapa Nisa.
"Eh...ee...walaykummussalam," jawabku terbata.
Entah kenapa sepanjang perjalanan tadi pikiranku melayang. Ujian Fisika pun sudah hilang dari kepalaku, tergantikan kemelut sms itu. Bahkan, kalau tidak disapa Nisa, teman sebangkuku, mungkin aku takkan sadar kalau aku sudah sampai di kelas.
"Ara kenapa? Koq mukanya mumet gitu? Ooo... Abis ngapal Fisika ya?" tanya Nisa.
"I...iya nih... pusing banget," jawabku. Segera aku meletakkan tas dan menghambur ke luar kelas.
"Ara mo ke mana?" tanya Nisa lagi. Duuh, temenku ini perhatian banget.
"Mo ke toilet sebentar,"jawabku bohong. Padahal sebenarnya aku tidak sedang ingin ke toilet. Ada seseorang yang harus kutemui demi kejelasan permasalahan yang tengah mengganggu pikiranku ini.
Cukup lama aku berdiri di depan kelas itu, menunggu datangnya orang yang mampu membuat hatiku berhenti bertanya-tanya, hingga akhirnya aku memberanikan diri bertanya pada salah seorang murid kelas itu.
"Maaf, Kyle-nya ada?"tanyaku.
"Kyle? Ooo... Hummm..." Anak itu celingak-celinguk sebentar melihat seisi kelasnya. "Waah... kaya'nya dia ga masuk tuuh. Ada apa ya?"
"Ummm... Ga sih. Ada perlu sedikit ma dia. Makasih ya."
Aku melangkah gontai kembali ke kelasku. Dia tidak masuk. Kenapa dia tidak masuk? Apa dia takut melihat reaksiku? Seharusnya tidak begitu kan? Apa sms itu cuma main-main? Dia juga tidak meminta jawaban dariku? Ahhh.... Apa yang sebenarnya terjadi?
Gabrug!
Ternyata aku menabrak seseorang di koridor. Tampak buku-buku dan sebuah binder berjatuhan. Aku mengenali binder itu.
"Maaf, kak Wendra," kataku.
"Ga pa pa," jawabnya sambil memungut bukunya. Aku membantu memungut bindernya dan menyerahkan padanya.
"Kamu kenapa bengong di sini?"
Aku terdiam. Bingung merangkai kata apa yang harus kuucapkan. Pada orang ini aku tak ingin berbohong, tapi aku juga tak bisa jujur...tidak saat ini.
"Ara lagi punya masalah ya?"tanyanya.
Aku hanya mengangguk pelan.
"I...iya,"jawabku.
Ingin aku bertanya apa maksud perkataannya barusan, tapi ia keburu melangkah masuk ke dalam kelas. Aku pun bergegas kembali ke kelas tepat saat ibu guru masuk. Ujian Fisika! Entahlah.... Pikiranku saat ini terlalu penuh dengan tanda tanya.




1 komentar:
8 Januari 2010 pukul 03.48
Your blog keeps getting better and better! Your older articles are not as good as newer ones you have a lot more creativity and originality now keep it up!
Posting Komentar