Spiga




smanepaKITA juga bisa diakses melalui alamat www.smanepakita.co.cc

smanepaKITA juga bisa diakses melalui alamat www.smanepakita.co.cc


Sebuah Cerpen Penggugah

Aku Belum Tahu Judulnya


Bus yang kutumpangi kini mulai berjalan perlahan menyusuri jalan berlubang di pinggiran kota. Apa pikiran pemerintah saat ini? Pikirku dalam hati. Apakah mereka tidak tahu kondisi jalan di sini atau mereka hanya pura-pura tidak tahu? Hah, entahlah! Pusing aku mikirinnya (cubo bingung ku memikirnya, jadi lagu perdamaian). Malam mulai menjadi dan mulai mendingin. Semakin gelap di luar sana. Tak satu pun bintang keluar malam ini. Kenapa? Apa yang telah terjadi di bumi ini, hingga bintang pun mulai enggan untuk menerangi malam? Coba kalian tanyakan pada diri kalian masing-masing! Bus bernomor 217 ini mulai mempercepat lajunya. Aku mulai merasakan kencangnya angin malam yang masuk melalui jendela bus yang sengaja kubuka lebar-lebar.

Bus ini tidak tampak begitu bagus jika kau melihatnya dari luar. Lihat saja, catnya sudah mengelupas di sana-sini, kaca jendelanya ada yang retak, lampu belakang pecah, dan yang lebih parah, knalpotnya mengeluarkan banyak banget asap hitam pekat. Bagaimana global warming bisa ga terjadi kalau selalu ada karbon monoksida yang dilepas ke udara setiap harinya? Apa? Kenapa aku menaikinya? Apa yang akan kau lakukan jika kau harus pergi malam ini juga, sementara bus yang tersisa hanya tinggal satu buah, bobrok pula? Untung masih bisa jalan! Yah, mungkin ada yang berpikir untuk menunda keberangkatan hingga besok pagi, tapi aku ga bisa menunggu. Aku harus pergi malam ini juga! Jadi, apa boleh buat. Penumpangnya pun ga banyak. Hanya tujuh orang termasuk aku. Aku duduk sendirian di kursi kedua dari belakang lajur kiri bus. Di kursi barisan depan, tepat di belakang kursi sopir, duduk sepasang suami istri. Mereka tampak mesra sekali, seperti pasangan pengantin baru saja. Huhuhu. Lalu ada seorang lelaki tua duduk tepat di depan kursiku. Ia tertunduk lemas. Apakah ia tidur? Mana ku tahu! Atau...jangan-jangan? Arrghhh. Kita ke penumpang selanjutnya saja ya? Di kursi paling belakang duduk seorang wanita setengah baya dan...putranya, mungkin? Nah, yang terakhir, eng...ing...eng! Ia seorang perempuan, kira-kira...seumuranlah denganku. Dia duduk tepat di belakang kursi pasangan suami istri yang mesra tadi. Ehh, dia melihat ke arahku! Dia berdiri! Waaa, dia ke arahku! Apa dia marah padaku? Memangnya apa salahku? Tolo...ng!

“Hai! Aku boleh duduk di sebelah kamu ga? Aku ga bisa tidur, aku liat kamu juga clingak-clinguk aja dari tadi. Mungkin kita bisa ngobrol,” tanyanya padaku. Aku kaget dan terdiam sejenak, sambil memandangi tuh cewek dari ujung rambut sampe ujung kaki. Siapa tau kakinya ga napak, mati deh gue. Setelah puas memandangi (eit, jangan berpikir macem-macem dulu…oke!), aku pun mempersilahkannya duduk. Ia pun duduk dan menaruh tas kecilnya di pangkuannya.

Angin malam makin kencang. Kututup kaca jendela yang tadinya terbuka lebar, karena cewek keturunan bule itu (mungkin?) udah mulai kelihatan kedinginan. Di luar masih gelap, tapi sesekali terlihat pohon-pohon di pinggir jalan yang bergerak dengan cepat. Ya, aku tahu yang bergerak bukan pohonnya, tetapi bus yang ku naiki. Namun kau akan berpendapat lain jika kau sedang menaiki kendaraan yang melaju kencang.

“Mau ke mana?” Gadis manis itu mulai membuka obrolan.

“Ke Bandung,” jawabku singkat.

“Yeee, nenek-nenek mabok juga tau bis ini mau ke Bandung! Maksud aku tujuan setelah di Bandung mau ke mana?” Ia bertanya lagi. Tapi kini dengan nada yang lebih tinggi. Aku tau dia tidak marah, tapi ia hanya sedikit sewot karena jawabanku yang seenaknya tadi.

“Hmm, gimana ya? Aku juga belum tau di sana mau kemana? Kenapa aku ke sana?”

“Lho kok bisa gitu?“ Dia bertanya lagi. Hei, kupikir cewek ini sebaiknya jadi wartawati. Kenapa? Bayangin! Dengan awalan ‘mau kemana’ aja bisa panjang kaya’ gini ceritanya. (Tapi kamu suka kan?)

“Aku kabur dari rumah! Begitu liat bus ini mau berangkat, aku langsung naik aja,” jawabku singkat.

“Kenapa kamu sampai kabur dari rumah? Sedang bertengkar ya sama orang tua? Kalau kamu ga keberatan, cerita aja ma aku tentang masalah kamu. Aku siap kok dengerin cerita kamu! Tapi kalo kamu ga mau cerita juga ga apa-apa kok!“ Katanya lagi.

Duh, gimana ya? Sebenarnya, aku bukan ga mau cerita ma dia, tapi aku bukan tipe cowok yang dengan mudahnya mencurahkan isi hatiku kepada seorang cewek dan meneteskan air mata di tengeh-tengah cerita. Aku tidak akan menceritakan masalahku padanya. Tapi kalau kalian ingin tahu, akan ku ceritakan pada kalian. Terserah kalian mau dengar atau tidak, asalkan kalian jangan ceritakan sama cewek ini ya.

Orang tuaku sudah bercerai sejak aku berumur 10 tahun. Setelah mereka bercerai aku tinggal bersama bapak dan ibu tiriku. Ya, bapakku menikah lagi setelah 2 tahun bercerai dengan ibuku. Yang menyebabkan aku pergi dari rumah adalah kejenuhan yang ku alami di sana. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari orang tuaku tidak pernah ada di rumah, entah mereka ke mana. Kalian pasti bertanya, ‘mengapa tidak tinggal bersama ibu kandungmu?’ Huh, andai saja aku tahu dia ada di mana. Setelah bercerai dengan bapakku, aku hanya melihatnya sekali. Setelah itu aku tidak pernah melihatnya lagi. Lebih baik sekarang ini kujalani hidupku dengan bebas. Ya nggak? Hei, hei, kalian jangan tidur dulu dong! Ah, sudahlah! Terserah kalian sajalah!

“Kalau kamu mau kemana?” tanyaku mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan kami.

“Oh, ga mau cerita ya! Ya sudahlah ga apa-apa. Aku kuliah di Bandung.”

“Oh gitu!” timpalku. Aku memalingkan wajahku ke jendela lagi dan memandang keluar. Tiba-tiba saja telingaku mendengar suara tangis wanita. Jangan-jangan. Benar saja dugaanku, wanita itu menundukkan kepalanya, dan kedua tangannya menutupi wajahnya. Oh Tuhan, apa salahku sehingga dia menangis? Waduh, kok keadaannya jadi begini sih?

“Eh, eh, kok nangis sih? Aku salah ya?” (Eh, eh, kok gitu sih? By: Dewiq feat, Indra Bekti)

“Nggak kok, kamu nggak salah.”

“Trus kenapa dong?”

“Aku jadi ingat sama orang tuaku. Dulu waktu SMA aku juga pernah kabur dari rumah ke Surabaya. Di sana aku tinggal di rumah temanku selama dua tahun, hingga aku menamatkan sekolahku. Setelah lulus SMA aku pulang ke rumah. Kau tahu apa yang terjadi ketika aku tiba di rumah? Kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan lalu lintas setahun sebelumnya. Aku menyesal, sangat menyesal karena aku tahu aku meninggalkan mereka di saat mereka marah padaku, hingga di saat terakhir mereka pun aku belum meminta maaf kepada mereka berdua. Begitu pula dengan diriku yang ga akan bisa memafkan diriku sendiri.” Di akhir ceritanya ia pun meneteskan air matanya lagi.

Tangisannya meluluhkan hatiku. Ceritanya memburamkan pikiranku. Penyesalannya mungkin saja akan jadi penyesalanku. Tapi, haruskah aku pulang? Aku makin bingung. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Pikiranku melayang entah kemana. Aku harus bagaimana? Someone, please help me!

“Tapi kalau kamu masih tetap berkeras untuk meninggalkan mereka, nggak apa-apa kok! Asalkan, hubungi mereka. Beritahu keadaanmu dan tujuanmu! Yang paling penting, pastikan mereka mengerti. Oke?” Kata-katanya membuyarkan lamunanku. Saat ku tersadar 100% kulihat dia menyeka air matanya yang mengalir di pipinya. Hei, ternyata dia benar-benar menangis lho!

“Maaf, aku jadi nangis! Aku memang agak sensitif. Maaf ya?”

“Eh, enggak! Harusnya aku yang minta maaf sama kamu karena sudah buat kamu nangis.”

“Ya deh, sama-sama. Huamphh.... Akhirnya sampai juga nih. Terima kasih ya atas waktu ngobrolnya. Aku nggak akan melupakan kenangan ini. Aku turun duluan ya! Oh iya, kalau kamu jadi tinggal di Bandung cari aku di sini ya! Daah!” Ia memberiku selembar kertas yang bertuliskan alamat dan nomor telepon. Akhirnya, kulihat ia berlalu turun di pintu keluar sambil melambaikan tangannya ke arahku. Lalu menghilang di tengah-tengah kerumunan penumpang.

Pertemuan yang sangat singkat. Tapi, sangat berharga bagiku. Aku pun sudah mengambil keputusan. Ku ambil tas dan kumantapkan langkahku menuju Bandung. Setelah menginjakkan kaki di tanah Bandung, bus bernomor 217 yang merupakan kenangan indah bagiku berlalu pergi. Di bus itu aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Sayangilah ke dua orangtuamu saat mereka masih hidup di dunia maupun ketika mereka telah tiada. Karena merekalah kita bisa menikmati hidup di dunia sekarang ini.

Pengalaman memang guru terbaik dan aku tidak akan pernah melupakan dia, wanita yang telah menyadarkan aku. Dia? Dia? Hei, aku baru ingat. Aku belum sempat menanyakan namanya.

End


0 komentar:

Ajijay

Scene 1: Disaster in Wednesday Morning "Minggir! Kasih jalan!" teriak lelaki berseragam putih abu-abu sambil tergopoh-gopoh berlari. Derap kakinya riuh menyusuri koridor sekolah yang dipenuhi siswa. "Awas! Lumpur panas!" raungnya untuk memecah kerumunan siswa. Serentak para siswa menghindar dari jalur pelariannya sambil mengumpat. Bahkan ada yang sampai terjatuh dan tak hentinya mengeluarkan sumpah serapah. "Awww!" pekik siswi-siswi yang tak sengaja (atau sengaja) disenggolnya. Namun dia hanya meminta maaf sekilas tanpa menghentikan langkahnya, tak menghiraukan barang-barang mereka yang jatuh..

selengkapnya.....

Google Search